Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Suplemen Sinar Tani
Katam Terpadu
banner1
KRPL
epetani
eproduk
agrinek

Profil Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian memiliki tupoksi melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi. Dalam pelaksanannya BPTP Gorontalo mendukung Program Strategis Kementerian Pertanian dan Program Pembangunan Pertanian Provinsi Gorontalo. BPTP Gorontalo pada awalnya adalah sebagai Satuan Kerja Pengkajian Teknologi Pertanian  berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/Kpts/KU.610/2/2003 tanggal 5 Pebruari 2003 dan SPAAP Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1/031/A.21/01/2003 tanggal 1 Januari 2003, sebagai respon Depertemen Pertanian untuk mendukung pembangunan pertanian atas terbentuknya propinsi Gorontalo.  Sejak tanggal 1 Maret 2006 berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI No. 16/Permentan/ OT.140/3/2006, berubah dari Satuan Kerja (Satker) menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Tugas pokok BPTP adalah melaksanakan kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.

Visi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo   merupakan bagian integral dari visi pertanian dan pedesaan 2020; ruh, visi, dan misi pembangunan pertanian 2010 – 2014; visi dan misi Badan Litbang Pertanian 2010 – 2014; serta visi dan misi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) yang dirumuskan untuk menggali dan menyampaikan persepsi yang sama mengenai masa depan pembangunan pertanian dan pedesaan. Persepsi tersebut diwujudkan dalam bentuk komitmen jajaran BPTP Gorontalo   dalam merealisasikan tujuannnya. Oleh karena itu, dalam mengemban tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spsesifik lokasi di Provinsi Gorontalo, maka BPTP Gorontalo   harus mempunyai visi yang bersifat futuristik dan mampu menjadi akselerator kegiatan penelitian pengkajian dan perakitan teknologi pertanian spesifik lokasi.  Berdasarkan hal tersebut, BPTP Gorontalo menetapkan Visi yaitu Menjadi lembaga pengkajian  dan pengembangan inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi yang unggul dan berkelanjutan dalam mendukung program strategis Kementrian Pertanian dan pembangunan agropolitan Provinsi Gorontalo”. Sedangkan misi BPTP Gorontalo   merupakan pernyataan mengenai garis besarkiprah utama BPTP dalam mewujudkan visi di tersebut. Untuk itu, BPTP Gorontalo menetapkan Misi sebagai berikut :

  1. Melaksanakan pengkajian, pengembangan, penyebarluasan dan pendayagunaan inovasi pertanian spesifk lokasi yang berorietasi agribisnis.
  2. Memperkuat keterpaduan peneliti/pengkaji, penyuluh dan stakeholder lainnya dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani.
  3. Melaksanakan dan mengembangkan program strategis Kementerian Pertanian dan  Agropolitan Propinsi Gorontalo  .

Tujuan dan Sasaran

Sesuai mandat Badan Litbang Pertanian kepada BPTP Gorontalo untuk melakukan pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi maka tujuan BPTP Gorontalo adalah:

  1. Meningkatkan ketersediaan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.
  2. Meningkatkan penyebarluasan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.
  3. Meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.

Sasaran :

  1. Tersedianya inovasi pertanian unggulan.
  2. Meningkatnya penyebarluasan (diseminasi) inovasi pertanian.
  3. Meningkatnya kerjasama nasional dan internasional (di bidang pengkajian, diseminasi dan pendayagunaan inovasi pertanian).
  4. Meningkatnya sinergi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.
  5. Meningkatnya manajemen pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.

 

Kebijakan, Program, dan Kegiatan-Kegiatan BPTP Gorontalo

Mengacu pada kebijakan umum penelitian dan pengembangan pertanian yang telah dirumuskan dalam Renstra Badan Litbang Pertanian 2010 – 2014, maka BPTP Gorontalo  menetapkan kebijakan pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian sebagai berikut:

1. Meningkatkan fokus kegiatan dan capaian hasil pengkajian dan pengembangan berorientasi   pasar/preferensi konsumen berdasarkan pada potensi sumberdaya wilayah.

2. Meningkatkan kuantitas/kualitas iinformasi, media dan lembaga diseminasi inovasi pertanian.

3. Meningkatkan kapabilitas manajemen pengkajian dan diseminasi untuk memperluas jejaring kerjasama.

4. Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.

5. Meningkatkan efektivitas manajemen institusi.

Dalam menjabarkan tugas pokok dan fungsinya, program BPTP Gorontalo   yang dilaksanakan dalam kurun waktu 2010 – 2014 dengan satu program yaitu: Program Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian. Untuk mengimplementasikan mandatnya, selanjutnya program tersebut dijabarkan dalam beberapa kegiatan utama dan indikator, yaitu :

  1. Pengkajian inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem, dengan indikator utama jumlah inovasi pertanian.
  2. Penyediaan dan penyebarluasan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah jenis materi inovasi.
  3. Pendampingan program strategis pembangunan pertanian wilayah, dengan indikator utama jumlah program strategis pembangunan pertanian wilayah yang mencapai sasaran.
  4. Advokasi teknis dan kebijakan operasional pembangunan pertanian wilayah, regional dan nasional, dengan indikator utama jumlah rekomendasi.
  5. Pengembangan kerjasama nasional dan internasional dalam pengkajian dan pendayagunaan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah laporan kerjasama pengkajian, pengembangan dan pemanfaatan inovasi pertanian.
  6. Koordinasi dan sinkronisasi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah sinergi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.
  7. Penyediaan petunjuk pelaksanaan (juklak) /petunjuk teknis (juknis) pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah juklak/juknis.
  8. Penguatan manajemen perencanaan dan evaluasi kegiatan serta adminstrasi instituís, dengan indikator utama jumlah dokumen  perencanaan dan evaluasi kegiatan serta administrasi keuangan, kepegawaian dan sarana prasarana.
  9. Peningkatan kualitas manajemen institusi, dengan indikator utama jumlah dokumen pedoman penerapan ISO 9001:2008
  10. Pengembangan kompetensi SDM, dengan indikator utama jumlah SDM yang meningkat kompetensinya.
  11. Peningkatan pengelolaan laboratorium, dengan indikator utama jumlah laboratorium yang produktif.
  12. Peningkatan pengelolaan kebun percobaan, dengan indikator utama jumlah kebun percobaan yang produktif.
  13. Peningkatan pengelolaan website dan database, dengan indikator utama Jumlah website dan database yang ter-update secara berkelanjutan.

 

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya , BPTP Gorontalo didukung dengan sarana prasarana antara lain: Gedung Kantor, 1 Gedung Peneliti, 1 Gedung Perpustakaan Digital, 1 Gedung Aula, 1 Gudang benih UPBS, 1 Guest house, rumah dinas jabatan kepala balai dan 13 rumah dinas (sementara). Jumlah SDM sampai tahun 2011 berjumlah 46 orang pegawai, dimana 9 orang fungsional peneliti, 12 orang peneliti non fungsional, 3 orang penyuluh non fungsional, 6 orang teknisi lapangan, 10 orang administrasi dan 6 orang tenaga honorer/kontak bagian rumah tangga.

Kegiatan yang telah dilakukan oleh BPTP Gorontalo semenjak berdirinya (2003 - 2011) dalam mendukung program pembangunan pertanian di Provinsi Gorontalo antara lain :

  1. Peta AEZ Kabupaten Bone Bolango dan Gorontalo Utara, yang melengkapi peta AEZ sebelumnya (Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo) yang dijadikan salah satu acuan dalam penyusunan pewilayahan komoditas.
  2. Penyusunan rekomendasi pemupukan padi sawah sebanyak 187 desa di 19 kecamatan, sedangkan untuk jagung sebanyak 184 desa di 18 kecamatan sepropinsi Gorontalo dan menjadi acuan dalamrekomendasi pemupukan spesifik lokasi padi dan jagung di Propinsi Gorontalo.
  3. Pengembangan teknologi integrasi ternak sapi-jagung.Dampak pengkajian tercermin pada antusiasme para petani/peternak di sekitar lokasi pengkajian untuk ikut-serta sebagai petani kooperator. Berdasarkan wawancara terhadap penerimaaan usahatani integrasi tanaman – ternak dengan B/C ratio di atas 1,3 dengan nilai kualitatif positif terhadap dayadukung lahan (keawetan produktivitas lahan)  sehingga kegiatan ini dapat berdampak  secara efektif bagi pendapatan dan kesejahteraan petani/peternak
  4. Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Primatani). Keberhasilan suatu kegiatan diukur dari manfaat serta dampak yang ditimbulkan sesudah kegiatan tersebut. Sejumlah manfaat signifikan dari Primatani Biyonga yaitu diadopsinya Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah khususnya penggunaan varietas-varietas unggul baru berlabel serta sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1. Keberhasilan lain adalah ditetapkannya Biyonga sebagai wilayah / desa inovasi teknologi padi sawah irigasi sehingga dijadikan tempat show window padi sawah, studi banding maupun praktek lapang. Keberhasilan dalam aspek budidaya tersebut ditunjang oleh aspek penyediaan benih berkualitas berupa kemudahan perolehan benih melalui kelompok penangkar yang dibentuk sebagai salah satu seksi usaha dalam Gapoktan. Kelembagaan kelompok penangkar tersebut telah berkembang dengan tidak hanya menjadi pemasok kebutuhan benih di Biyonga dan diluar desa. Penangkar tersebut juga telah membentuk sub kelompok binaan penangkar diluar Biyonga yang bertujuan memperluas jaringan pemasaran benih.
  5. Primatrans, merupakan duplikasi dari Primatani yang dikelola oleh transmigrasi dan didampingi oleh BPTP. Pendampingan dan pengembangan kelembagaan, berdampak makin seringnya diadakan pertemuan diantara warga sehingga mereka berdiskusi, tukar pendapat dan berinteraksi satu sama lain. Peningkatan pengetahuan petani mengenai budidaya jagung, hortikultura, kakao dan buah-buahan yang diperoleh baik dari pelatihan, pendampingan, diskusi maupun melalui buku yang disediakan di klinik agribisnis. Hasil evaluasi pendapatan transmigran mulai mengalami peningkatan yang semula memiliki pendapatan Rp 9.844.499/KK/tahun menjadi Rp. 12. 626.710/KK/tahun. Akses petani terhadap saprodi semakin mudah dengan didirikannya koperasi “Prima Trans”.
  6. Klinik Teknologi Pertanian di Desa Puncak, Kecamatan Pulubala, Kab. Gorontalo. Setelah pelaksanaan kegiatan Klittan, hingga saat ini sistem pengelolaan usahatani jagung di Desa Puncak sudah diwarnai oleh penerapan teknologi spesifik lokasi yang semakin baik dan telah dilaksanakan secara terpola dari musim ke musim.
  7. Penyebaran varietas unggul baru padi sawah (VUB).Pada tahun 2007-2008 dilakukan penangkaran varietas unggul Mekongga di lokasi Primatani, dalam perkembangannya hingga tahun 2009 diperkirakan telah ditanam pada 15-25% dari luas pertanaman padi sawah di Propinsi Gorontalo. Varietas Inpari-3 dan inpari-4 telah berkembang melalui jalur benih antar lapang dengan sistem pertukaran hasil gabah dengan benih sebanyak 19 titik dengan luas 18,3 ha untuk varietas Inpari-3 melalui penangkar AmrullahHasiru di Desa Lamahu, Kabupaten Bone Bolango dan penangkar Sura Adam I Desa Iloheluma, Tilongkabila, Kabupaten BoneBolango dan 15 titik dengan luas 5,35 ha untuk varietas Inpari-4 melalui penangkar Umar Latekka di Desa Toluwaya, Bulango Timur, Kabupaten Bone Bolango. Sebanyak 723 kg benih Inpari-3 kelas SS pada 43 lokasi dengan luas 44,4 ha dan 162 kg benih Inpari-4 pada 72 lokasi dengan luas 7,7 ha menyebar sekabupaten/kota Gorontalo melalui BPTP Gorontalo.
  8. Gelar Teknologi Hortikultura. Gelar Teknologi ini dikunjungi oleh beberapa stakeholder baik pemda propinsi, kunjungan staf ahli menteri, serta menjadi tempat praktek siswa SMK Pertanian. Sebagai dampak dari kegiatan Gelar Teknologi Hortikultura terutama adalah semakin terperhatikannya pengembangan usaha hortikultura yang di kawasan ini dengan menetapkan Desa Permata sebagai Kawasan Hortikultura.
  9. Penyebarluasan juknis, leaflet, dan poster teknologi pertanian keseluruh BPP dan kepada sekitar 300 PPL di Propinsi Gorontalo. Penyebaran buku leaflet baik kepada BPP, penyuluh, dan petani menyabkan banyak animo petani ataupun para PPL untuk berkomunikasi langsung dengan BPTP, hal ini tercermin dari banyaknya permintaan pelatihan atau memberi materi pada acara pelatiha yang dilaksanakan pada kegiatan FMA di tingkat petani.Disamping itu penyebaran poster Inpari-3 menyebabkan banyak pemintaan akan benih Inpari-3, sehingga pada musim tanam 2009 dan 2010 sudah tersebar keberbagai lokasi di Propinsi Gorontalo. Penyebaran poster sistem tanam legowo juga sangat bermanfaat dalam mempercepat adopsi teknologi pada pelaksanaan SPTT padi. Pada 2011, Perbanyakan dan distribusi materi diseminasi sebanyak 500 eksemplar booklet (5 judul); 2000 eksemplar poster (4 judul) dan 1000 eksemplar leaflet (2 judul). Semua cetakan  tersebut disalurkan ke seluruh BP4K dan BP3K se-Provinsi Gorontalo
  10. Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (UPPTIP) atau Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usahatani melalui pemberdayaan dalam mengakses informasi, teknologi, modal dan sarana produksi untuk mengembangkan usaha agribisnis dan kemitraan dengan sektor swasta secara optimal dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga pelaku usahatani secara berkelanjutan. BPTP melakukan pendampingan terhadap kelompok tani FMA di 4 Kabupaten pelaksana FEATI (Gorontalo, Bone Bolango, Boalemo dan Pohuwato) antara lain Narasumber pelatihan penyuluh, Pemateri pelatihan FMA, Penyebaran Materi-materi Teknologi, Demplot Teknologi di 4 Kabupaten.
  11. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Tujuan pelaksanaan kegiatan PUAP adalah untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja diperdesaan, meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan dan meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi mitra lembaga keuangan.Setiap gapoktan/desa mendapat bantuan modal sebesar Rp.100 juta.Jumah desa yang mendapatkan Program PUAP tahun 2008 sebanyak 132 desa, tahun 2009 sebanyak 113 Desa, dan 2010 sebanyak 91 desa meliputi kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Bone Bolango, Gorontalo Utara,  Boalemo dan Kota Gorontalo. Tahun 2010 Gapoktan Kota Gorontalo menjadi juara I PUAP tingkat nasional.
  12. Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi dan Jagung di Kab. Bone Bolango, Kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato, Kab. Boalemo dan Kota Gorontalo. Program SL-PTT ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani.Model pendampingan BPTP pada pelaksanaanSL-PTT di Provinsi Gorontalo antara lain melalui Display Varietas Unggul Baru, Penyebaran Materi Teknologi, Narasumber Pelatihan Pemandu Lapang/Penyuluh dan Narasumber pelaksanaan SL-PTT, Demfarm PTT Padi 5 ha tiap Kabupaten sebanyak 60% dari unit SL-PTT di Gorontalo.
  13. Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Gorontalo telah dirintis sejak tahun 2006, namun dukungan dana/pembiayaan masih berasal dari Koperasi Pegawai Negeri BPTP Gorontalo, dan mulai TA 2011 telah dibuat Surat Keputusan (SK) pembentukan UPBS BPTP Gorontalo. Lahan BPTP Gorontalo yang dapat dimanfaatkan untuk UPBS seluas ± 4 ha untuk komoditas Padi Sawah. Sampai bulan Juni 2011 pemanfaatan lahan UPBS baru berkisar 1.5 ha dari dana APBN, sisanya ± 2.5 ha masih dikelola oleh Koperasi BPTP Gorontalo. Kedepan luas lahan sebesar ± 4 ha tersebut akan dimanfaatkan seluruhnya oleh UPBS. Varietas Unggul Baru Padi yang dikembangkan oleh UPBS adalah Inpari 3, 4, 6, 8, 10, 13, dan Tukad Balian. TA 2011 telah dibangun Gudang Benih UPBS dan lantai jemur guna mendukung pelaksanaan perbenihan BPTP Gorontalo. Total Produksi Benih Padi Tahun 2011 sebanyak 12,86 ton Varietas Inpari 3, 4, 7, 10 dan Inpari 13.  Hasil produksi benih ini didistribusikan untuk keperluan pendampingan SL-PTT berupa Display VUB, distribusi ke petani penangkar, dan PT Sang Hyang Seri.
  14. Pada tahun 2010 – 2014, BPTP Gorontalo akan lebih mengarahkan kegiatan-kegiatan pada : a). Pendampingan program strategis Kementerian Pertanian (SL-PTT, Gernas Kakao,Kawasan Hortikultura dan PSDS), b). Peningkatan indeks panen baik dilahan optimal maupun sub optimal, c). Pengembangan integrasi ternak dengan jagung, padi, dan kakao, d). Percepatan penyebarluasan VUB tanaman pangan dan hortikultura e). Meningkatkan penyebarluasan paket teknologi spesifik lokasi baik ke PPL, petani, institusi, atau stakeholder lainnya dalam bentuk tercetak ataupun dalam bentuk elektronik, f). Pengembangan inovasi dan penyebaran informasi teknologi pertanian g) Kegiatan penelitian dan pengkajianh). Pengembangan UPBS, Peningkatan Diversivikasi Pangan, M-KRPL (Model Kawasan Rumah Pangan Lestari),dan MP3MI (Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi).
  15. Untuk meningkatkan peran BPTP di Propinsi Gorontalo, dilakukan kerjasama program antara lain : a)Rancang Bangun dan Pengembangan Kawasan Hortikultura Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (dilaksanakan 2011) b) Peningkatan Indeks Panen Padi dari 200  menjadi IP 300 di Kabupaten Bone Bolango bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Bone Bolango, c) Pengembangan benih jagung hibrida, bekerjasama dengan Pemda KabupatenGorontalo Utara, d). Pengembangan benih padi sawah inbrida, bekerjasama dengan PT. Shangyangseri dan Pemda Kabupaten Gorontalo.Pada TA 2011 telah dilaksanaan kerjasama penyusunan profil dan road map pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato berkerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo.
  16. Pada Tahun 2011 dilakukan Kajian pola dan faktor penentu distribusi penerapan inovasi pertanian spesifik lokasi di provinsi gorontalo. Hasil wawancara pada 120 petani responden di 4 Kabupaten lokasi penelitian  bahwa umumnya pola distribusi inovasi teknologi yang diinginkan petani responden adalah dari Balit komoditas ke BPTP, melalui PPL dan langsung ke petani. Disamping itu 37% petani responden juga memilih pola yang sudah ada sekarang (Balit-BPTP-Dinas/Bakorluh-BP4K/BP3K-Poktan-Petani) sebagai pola yang masih efektif saat ini. Sedangkan metode yang efektif menurut pendapat petani responden umumnya adalah melalui dempot (60%)
Joomla Templates by JoomlaVision.com